Di teras lantai atas tingkat rumahnya, Hilman duduk seorang diri. Menatap langit yang ditaburi bintang dan bulan yang sendang purnama. Pikirannya menerawang jauh ke masa depannya. Terlintas dalam benaknya seorang wanita dengan rambut sebahu dibiarkan tergerai diterpa angin. Seorang wanita yang telah meluluhkan hatinya. Entah apa yang membuatnya luluh pada wanita itu. Parasnya biasa saja karna memang Hilman sadar diri dengan wajahnya yang biasa saja. Seorang wanita yang selama lima tahun telah bersamanya dan akan segera ia nikahi. Ia membayangkan dirinya yang telah hidup bersama wanita yang sangat ia cintai, teramat sangat. Wanita itu adalah Benayu Aliefia. Seorang wanita mandiri yang selama ini sangat ia kagumi. Ayu begitu panggilannya, adalah wanita tomboy. Bisa dilihat dari cara ia berjalan dan berpakaian. Entah mengapa Hilman bisa sampe cinta mati sama Ayu.
“Gak sabar nih gw pengen cepet-cepet nikahin Ayu. Gw pengen nanti nuansanya jingga, Ayu pasti cantik pake kebaya jingga. Kalo gw gak mungkin kali ye pake jas warna jingga. Gw dah pasti pake jas warna hitam donk. Trus pelaminannya itu yang unik banget deh. Pokoknya yang blom pernah ada selama ini. Gw mau bikin pernikahan ini momen terindah dalam hidup gw yang gak bakal terlupakan. Catering pun harus yang terbaik. Pokoknya acara ini akan gw rancang sebaik mungkin biar gak ngecewain siapapun.” Begitulah suara hati Hilman berbicara.
Hilman sudah mempersiapkan hari pernikahannya dengan sebaik mungkin, catering terbaik sudah dipesan oleh mamanya. Undangan sudah di design sedemikian rupa, ia memilih warna jingga soft untuk undangannya. Tak banyak ornamen dalam undangannya, simple tapi manis dilihatnya. Souvenir khusus ia pesan dari sahabatnya Fidel, semua hasil buatan tangan Fidel dan ibunya. Semua barang-barang yang terbuat dari clay (lilin yang diimport dari Jepang). Ia pesan souvenir masing-masing sebanyak 200 buah, beberapa bulan yang lalu.
Fidel seorang cewek yang teramat sangat mandiri. Anaknya pinter, supel, baik dan ramah pada siapa saja yang ditemuinya. Makanya tak heran kalo sahabat dan temannya banyak sekali.
“Ssssstttt diam-diam aku pernah berkeinginan untuk menjadikannya pengganti Ayu loh. Waktu itu aku sama Ayu lagi berantem hebat. Trus aku pikir, kenapa aku gak menggaet Fidel aja ya? Hmmmm… tapi nyaliku kecil. Bermimpi untuk dapetin cewek seperti Fidel aja gak berani. Apa lagi menggaetnya untuk menjadikan dia istriku. Huuuuuh… bisa-bisa Fidel langsung mundur seribu langkah menjauhiku. Aku yakin Fidel pasti akan mendapatkan jodoh terbaik pilihan Allah suatu hari nanti.”
---
Semua keluarga besarnya sangat bahagia dan ikut mempersiapkan pernikahan Hilman sebaik mungkin. Mengingat Hilman sudah dilangkahi oleh dua orang adiknya Kevin dan Kezia. Hilman membiarkan kedua adiknya menikah lebih dulu. Ia beranggapan jodoh, maut, rejeki Allah yang mengatur. Kedua adiknya digariskan mendapat jodoh lebih dulu, jadi ia mengikhlaskan mereka menikah lebih dulu. Ia pun tak minta pelangkah apa-apa, karena dalam keluarga besarnya yang masih sangat mengikuti tradisi Jawa. Pelangkah itu harus diberikan kepada kakak yang dilangkahi atau didahului menikah agar sang kakak segera mendapatkan jodoh. Kedua orang tua Hilman memaksanya menyebutkan pelangkah yang diinginkan. Untuk Kevin adik laki-lakinya ia meminta agar Kevin menjadi suami dan ayah yang berakhlak mulia dan jangan sampe melalaikan kewajibannya sebagai seorang hamba Allah. Begitu juga untuk Kezia, ia meminta agar Kezia menjadi istri solehah untuk suaminya dan menjadi ibu yang penuh kelembutan dan kasih sayang serta menjadi hamba Allah yang selalu menegakkan ajaran dan kehendakNya. Sungguh mulia hatinya, ia hanya ingin adik-adiknya hidup bahagia.
---
Pernikahan tinggal 3 bulan lagi, Hilman dan keluarganya sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Ia tak ingin ada satu hal pun yang akan merusak momen terindah dalam hidupnya. Gedung sudah siap, baju pengantin sudah jadi, catering udah ok, video shooting dah siap, tinggal undangan aja yang blom jadi. Tapi ternyata semua rencana yang sudah dirancang sedemikian rupa rusak seketika. Saat Benayu datang menemui Hilman dan berbicara terus terang pada Hilman bahwa dirinya sudah tidak suci lagi. Kejadiannya ketika mereka berdua sedang break. Ternyata Benayu kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Seorang lelaki tinggi, besar, berkulit sawo matang. Seorang lelaki yang pernah mencampakkan Benayu begitu saja karena terpikat dengan wanita lain. Abel nama lelaki itu. Entah bagaimana ceritanya sampe Benayu bisa kembali sama mantan pacarnya. Yang jelas Mantannya udah putus dan lagi jomblo saat itu. Abel dan Benayu janji bertemu di suatu café. Abel membuat Benayu mabuk dengan membelikannya minuman beralkohol. Sejak putus dari Abel, Benayu sudah tak pernah lagi mengkonsumsi minuman beralkohol. Sejak bertemu Hilman, hidup Benayu yang penuh gemerlap dunia malam sudah berubah drastis. Dalam keadaan mabuk, Abel melucuti baju Benayu dan melakukan perbuatan terlaknat itu. Saat Benayu sadar, ia sudah dalam keadaan tanpa sehelai baju pun hanya ditutupi bad cover dan sepucuk surat dari Abel.
My lovely Benayu,
Yu, thanx ya untuk malam yang sangat indah. Gw gak rela lo jadi milik orang lain. Jadi gw nikmatin dulu deh tubuh indah lo itu. Bilang sama calon suami lo selamat menikmati bekas gw ya.
Your lovely,
Abel
Benayu langsung histeris dan hampir tak sadarkan diri. Ia menyesal, kenapa kembali menemui Abel. Tapi semua sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur. Dia merasa sangat kotor dan tidak pantas menjadi pendamping hidup Hilman. Beberapa hari setelah kejadian memalukan itu, Ayu memeriksakan dirinya ke dokter kandungan. Sebelumnya dia sudah mencobanya dengan test peck tapi ia belum yakin dengan hasilnya. Menurut pemeriksaan dokter kandungan, ia dinyatakan tidak hamil. Air matanya deras membasahi pipinya, ia bahagia karna tidak hamil tapi ia sangat terpukul dengan perlakuan Abel. Benayu menunjukkan hasil pemeriksaan dari dokter pada Hilman, yang menyatakan bahwa ia tidak hamil.
“APA, kamu udah gila Yu? Tau gak kamu, waktu aku sama kamu break. Mama tuh langsung masuk Rumah Sakit sampe 1 bulan. Dan gara-gara mama masuk RS, aku berantem hebat sama papaku dan semua saudaraku menyalahkanku. Trus kalo sekarang aku kabarin kita gagal menikah, apa yang akan terjadi Yu? Kenapa kamu baru bilang sekarang? Kenapa kamu gak bilang sebelum kita menentukan tanggal pernikahan yang udah di depan mata. Semua keluarga besarku sudah tau Yu. KAMU KOK TEGA Yu?”
Benayu terdiam dan membenamkan wajahnya dalam-dalam sambil terisak-isak menyesali kebodohannya.
Tiba-tiba Hilman teringat perang besar yang terjadi antara ia dan papanya saat mamanya masuk rumah sakit begitu tau Hilman dan Benayu sedang berantem hebat dan membuat hubungan yang telah mereka jalin selama lima tahun itu istirahat.
“MAN, mama masuk rumah sakit karena kamu.” Bentak papa pada Hilman di depan dua orang adik dan kakaknya
“KALO SAMPE TERJADI SESUATU SAMA MAMA, KAMU YANG HARUS TANGGUNG JAWAB. INGAT ITU!” Begitulah ancaman papa yang selalu terngiang di telinga Hilman. Sejak itu Hilman selalu menuruti apa keinginan mama. Hilman tak mau sampe terjadi hal yang tidak diinginkan pada mamanya. Ia tak mau keluarga besarnya menyalahinya terutama papa.
“Man, mama ngerasa Benayu adalah jodoh terbaik yang dipilihkan Allah untuk kamu. Kamu tidak akan pernah menyesal menikahi Benayu.” Pesan mama saat Hilman memutuskan untuk melamar Benayu 6 bulan yang lalu kembali terngiang di telinganya.
Hilman merasa bagai tersambar petir saat Benayu mengatakan bahwa dirinya sudah tidak suci lagi. Tubuhnya langsung lemas seketika itu juga. Tak ada lagi gairah untuk hidup. Tak ada lagi impian indah yang ia damba selama ini. Semuanya hancur saat itu juga.
---
“Tuh cewek sakit jiwa kali ya Del, waktu dia naik jabatan dia bilang kalo gw mau anter jemput dia di kantor gak boleh lagi naik motor. Kalo naik taxi minimal silver bird. Trus kalo ada undangan acara kantornya gw mesti pake jas. Gw harus belajar dansalah. Gw harus lulus Sarjana dulu lah sebelum menikah sama dia. Pokoknya banyak banget deh aturannya Del. Tapi karna gw dah cinta mati sama dia, jadi gw turutin tuh semua syarat yang dia sebutin. Tapi apa balasan dia Del? Dia malah tidur sama mantannya.” Cerocos Hilman pada Fidelia di ujung telepon
“APA? DIA DAH TIDUR SAMA MANTANNYA? KOK BISA? TRUS DIA HAMIL?” Tanya Fidelia menyelidik.
“Dia bilang sih nggak, trus ada surat dari dokter yang menyatakan dia gak hamil. Waktu itu dia mabuk” Jawab Hilman mengulang cerita Benayu padanya.
“Trus lo masih mo terima dia Man? Lo berdua kan dah nentuin tanggal pernikahan? Trus gimana sama nyokap lo Man?” Tanya Fidel penasaran.
“Kalo menurut lo gimana Del?” Hilman balik bertanya pada Fidel.
“Lo gimana seh gw Tanya, malah balik nanya? Sekarang perasaan lo sama dia gimana?”
“Jujur gw masih sayang sama dia, tapi gw juga gak mau donk dapetin bekasnya orang!”
“Baju kale bekas… hahahahhaa.” Cletuk Fidel
“Jadi menurut lo gimana Del?” Tanya Hilman penasaran
“Gini ya Man, gelas yang dah jatuh ada 2 kemungkinan yaitu pecah atau retak. Nah kalo retakan atau pecahan itu disatuin dan di lem maka akan tetap kelihatan tuh retakannya. Begitu juga dengan hati Man. Kalo udah terluka, luka itu pasti akan membekas. Sekarang keputusannya ada di tangan lo. Lo sholat istikharah aja, minta pentunjuk dan jawaban terbaik sama Allah.”
“Gitu ya Del? Gw bingung nih gimana ngomongnya ya sama nyokap gw. Bisa-bisa gw perang lagi nih sama bokap gw.”
“Man, kalo gw jadi elo sih dah gak bakal deh gw terima itu cewek!”
“Gw juga gak mau lah bekas orang. Tapi masalahnya nyokap gw Del, dia yakin banget kalo Benayu tuh jodoh terbaik yang dah disiapin Allah buat gw. Gw gak mungkin donk bikin nyokap gw masuk RS untuk ke-2 kalinya gara-gara kasus sama cewek ini.”
“Susah juga sih ya. Lo berdua dah nentuin tanggal pernikahan. Semua dah siap, tinggal nyebar undangan doank kan?”
Hilman mengangguk.
“Gw doain deh moga lo dapet jalan keluar terbaik.”
“Amin. Thank you Del.”
---
“Aku tak mungkin menggagalkan pernikahan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Tak mungkin! Aku gak mau mama masuk rumah sakit lagi. Aku juga gak mau perang hebat sama papa lagi. Apa aku harus menerima Benayu apa adanya? Demi mama, demi nama baik keluarga. TIDAK…………………”
Hilman berteriak sekeras-kerasnya melampiaskan kekesalannya di tanah lapang yang hanya ditumbuhi rerumputan. Tempat ia biasanya melepaskan penat. Untung tak ada orang satu pun disana. Kalo gak, bisa dibilang orang gila dia. Tapi Hilman memang merasa sudah gila, hidupnya sudah tidak seindah yang dia bayangkan. Dia akan menikah dengan seorang wanita yang terenggut kesuciannya. Seorang wanita yang pernah membuatnya tergila-gila saking cinta mati.
DAAARRRRR! Suara Petir memecah kesunyian disertai hujan deras yang mengguyur tanah lapang yang sedang dipijak oleh Hilman. Airmata pun deras membasahi pipinya. Ia duduk berlutut dan menangis sejadi-jadinya. Derasnya hujan yang turun saat itu seolah-olah tangisan bidadari langit dengan apa yang sedang dialami Hilman. Ia membiarkan tubuhnya terguyur hujan yang makin lebat dan terus menangis menyesali hidupnya.
---
“Del, tadi ada temennya dateng nganter undangan? Itu undangannya bunda taro di meja kamar ya.”
“Siapa bun? Cowok apa cewek?” Fidel langsung melangkahkan kaki ke kamarnya
“Cowok, bunda lupa namanya.” Jawab bunda
Benayu Aliefia, S. Sos (Ayu)
Putri ketiga dari Bapak Citro Jayadinangrat dan Ibu Ayesha Tri Hapsari
&
Hilman Prakasa, SE (Hilman)
Putra kedua dari Bapak Abimanyu dan Ibu Riana Budiarti
Akad Nikah: Sabtu, 6 Mei 2006
Pukul: 08.00 WIB - selesai
Tempat: Gedung Serba Guna Depok
Fidel langsung menghubungi Hilman. “Halo……. Hilman? Waaaah jadi juga lo nikah sama dia.” Cerocos Fidel.
“Eh elo Del, gw terpaksa. Demi nyokap, gw korbanin perasaan gw. Gw gak mau dibilang anak durhaka Del. Elo dateng ya, bawa tuh love boat lo.”
“Beres deh. Ya udah ye.” Fidel mengakhiri pembicaraannya
“Ok bos. Thanx ya.” Hilman pun mengakhiri pembicaraannya dan menutup gagang telepon.
--
Jika ada pilihan lain yang bisa kupilih tanpa harus menikah dengan wanita yang sudah tidak suci lagi dan tak perlu melukai perasaan mamaku, pasti aku akan memilihnya. Cinta memang terkadang menyakitkan. Cinta butuh pengorbanan. Dan pernikahan yang kulakukan ini adalah wujud rasa cintaku pada mama. Biarlah lelaki jalang itu menertawai aku. Aku tak peduli! Yang penting mamaku bahagia. Biarlah aku terpenjara selamanya dengan penderitaan ini. Asal aku bisa membuat mama tersenyum bahagia. Biar kusimpan Luka dalam cinta ini.
Labels: Cerpen
